DJBC Kawal Investasi Raksasa di KEK Gresik, Evaluasi Langsung JIIPE dan Serap Aspirasi Industri Demi Perkuat Daya Saing Indonesia

Gresik –Top Berita Nusantara Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga efektivitas kebijakan fiskal dan memperkuat iklim investasi nasional melalui pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Pemanfaatan Fasilitas Kepabeanan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik, yang berlangsung di kawasan industri strategis Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Selasa (2/6/2026).

Kegiatan ini menjadi langkah penting pemerintah dalam memastikan berbagai fasilitas kepabeanan, perpajakan, dan cukai yang diberikan kepada pelaku usaha di kawasan ekonomi khusus benar-benar dimanfaatkan secara optimal, tepat sasaran, serta mampu mendorong pertumbuhan investasi, industrialisasi, dan penciptaan lapangan kerja secara berkelanjutan.

Monitoring dan evaluasi dipimpin langsung oleh Direktur Fasilitas Kepabeanan DJBC, Susila Brata, didampingi Kepala Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur I, Rusman Hadi, serta Kepala KPPBC Tipe Madya Pabean B Gresik, Asep Munandar. Kehadiran para pejabat tinggi tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengawal keberhasilan KEK Gresik sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia.

Pelaksanaan kegiatan ini mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 237/PMK.010/2020 sebagaimana telah diubah melalui PMK Nomor 33/PMK.010/2021 yang memberikan mandat kepada DJBC untuk melakukan evaluasi berkala terhadap pelaku usaha penerima fasilitas di kawasan ekonomi khusus.

Evaluasi tersebut dinilai sangat penting untuk memastikan bahwa seluruh insentif yang diberikan negara mampu memberikan manfaat nyata bagi peningkatan daya saing industri nasional, mempercepat investasi, serta mendukung program hilirisasi yang menjadi salah satu agenda prioritas pembangunan ekonomi nasional.

Dalam rangkaian kunjungan tersebut, rombongan DJBC melakukan peninjauan langsung ke sejumlah perusahaan strategis yang beroperasi di KEK Gresik, termasuk PT Freeport Indonesia dan PT Hailiang Nova Material Indonesia yang saat ini menjadi bagian penting dalam pengembangan ekosistem industri berbasis hilirisasi dan manufaktur berorientasi ekspor.

Baca Juga :  Sambut Ramadan 1447 H, Desa Rangkah Kidul Gelar Nyekar dan Megengan Serentak dengan Semangat Kebersamaan

Kunjungan lapangan dilakukan melalui pemaparan proses bisnis perusahaan, diskusi terkait implementasi fasilitas kepabeanan, hingga peninjauan langsung area produksi dan fasilitas operasional pabrik. Melalui kegiatan tersebut, DJBC memperoleh gambaran nyata mengenai tantangan yang dihadapi dunia usaha sekaligus efektivitas kebijakan yang telah diterapkan selama ini.

Selain meninjau aktivitas industri, rombongan juga melakukan pengecekan menyeluruh terhadap infrastruktur kawasan, termasuk sistem Autogate KEK Gresik yang menjadi salah satu fasilitas penting dalam mendukung percepatan arus barang, efisiensi logistik, dan pengawasan lalu lintas komoditas secara modern dan terintegrasi.

Salah satu agenda yang mendapat perhatian khusus adalah sesi dialog interaktif antara DJBC dan para pelaku usaha yang beroperasi di kawasan tersebut. Dalam forum tersebut, Susila Brata secara langsung membuka ruang komunikasi untuk mendengarkan berbagai masukan, kendala, dan kebutuhan industri terkait pelayanan kepabeanan maupun implementasi regulasi yang berlaku.

Pendekatan dialogis ini mendapat apresiasi dari kalangan pelaku usaha karena memberikan kesempatan bagi dunia industri untuk menyampaikan aspirasi secara langsung kepada regulator. Berbagai masukan yang diterima nantinya akan menjadi bahan evaluasi dan pertimbangan dalam penyempurnaan kebijakan kepabeanan yang lebih responsif terhadap kebutuhan dunia usaha.

Menurut DJBC, keberhasilan pembangunan kawasan ekonomi khusus tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi yang masuk, tetapi juga oleh kualitas pelayanan pemerintah dalam menciptakan kepastian hukum, kemudahan berusaha, dan efisiensi operasional bagi investor.

Karena itu, kegiatan monitoring dan evaluasi tidak semata berfungsi sebagai instrumen pengawasan, tetapi juga menjadi sarana memperkuat kemitraan strategis antara pemerintah dan sektor industri guna menciptakan ekosistem usaha yang sehat, kompetitif, dan berkelanjutan.

KEK Gresik yang berada di kawasan JIIPE saat ini memiliki posisi strategis sebagai salah satu motor penggerak industrialisasi nasional. Kawasan ini menjadi tujuan berbagai investasi besar, termasuk sektor pengolahan mineral, manufaktur, logistik, dan industri berorientasi ekspor yang mendukung agenda hilirisasi nasional.

Baca Juga :  AMC Group Gelorakan Gerakan Integritas Nasional pada Hakordia 2025 Bersama Dr. Andre Yulius

Dengan dukungan fasilitas kepabeanan yang optimal, kawasan ini diharapkan mampu meningkatkan daya tarik investasi asing, memperkuat rantai pasok industri dalam negeri, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi regional maupun nasional.

Melalui kegiatan monitoring dan evaluasi yang dilakukan secara langsung di lapangan, DJBC menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pelayanan kepabeanan yang cepat, transparan, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan pengguna jasa. Kepastian layanan serta regulasi yang mampu mengakomodasi dinamika industri diyakini menjadi faktor kunci dalam meningkatkan daya saing Indonesia di tengah persaingan ekonomi global yang semakin ketat.

Sinergi yang kuat antara pemerintah, pelaku usaha, dan pengelola kawasan diharapkan mampu menjadikan KEK Gresik sebagai model kawasan industri modern yang tidak hanya menarik investasi, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah, memperluas kesempatan kerja, serta memberikan kontribusi signifikan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan.

Melalui langkah-langkah strategis seperti ini, pemerintah menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi tidak hanya berorientasi pada angka investasi semata, tetapi juga pada penciptaan ekosistem industri yang sehat, produktif, dan berkelanjutan demi mewujudkan Indonesia sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan dan dunia (Har).

Leave a Reply