MIO Indonesia Siapkan Lompatan Nasional 2026, Bela Negara dan Rakernas II Jadi Poros Transformasi Organisasi Pers Modern

JAKARTA TIMUR, 29 Mei 2026 — TOP BERITA NUSANTARA MIO Indonesia menunjukkan keseriusannya dalam memperkuat eksistensi sebagai organisasi pers nasional melalui langkah konsolidasi besar-besaran yang melibatkan seluruh unsur kepengurusan pusat. Momentum tersebut ditandai dengan rapat strategis pengurus pusat yang digelar di Kantor Sekretariat Divisi Pengawasan Internal dan Kepatuhan Anggota MIO Indonesia, Jalan Jajan Raya Hamkam Nomor 39, Cipayung, Jakarta Timur, Jumat (29/5/2026).
Rapat yang berlangsung penuh dinamika, semangat kebersamaan, dan komitmen organisasi itu menghasilkan sejumlah keputusan penting yang akan menjadi fondasi arah gerak MIO Indonesia sepanjang tahun 2026. Selain membahas percepatan realisasi program kerja seluruh divisi, forum tersebut juga mematangkan persiapan agenda Bela Negara dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II yang diproyeksikan menjadi tonggak transformasi organisasi menuju era yang lebih profesional, solid, dan berdaya saing.
Sejak awal pelaksanaan, rapat telah menggambarkan semangat kolektif seluruh pengurus dalam memperkuat kelembagaan organisasi. Acara dibuka oleh Wakil Sekretaris Jenderal I MIO Indonesia, Drs. Abdul Hapid, SH, MM, yang bertindak sebagai moderator sekaligus pengarah jalannya forum.
Perhatian peserta kemudian tertuju pada arahan Ketua Umum MIO Indonesia, AYS Prayogie, yang menegaskan pentingnya percepatan kerja organisasi di tengah tantangan dunia pers yang semakin kompleks dan kompetitif. Didampingi Sekretaris Jenderal Randy Aditia serta Bendahara Umum Cuncun, AYS Prayogie menekankan bahwa seluruh divisi harus bergerak lebih progresif dengan program-program yang nyata, terukur, dan memberikan manfaat langsung bagi anggota maupun masyarakat.
Menurutnya, tahun 2026 harus menjadi momentum akselerasi organisasi untuk memperkuat posisi MIO Indonesia sebagai wadah insan pers yang tidak hanya profesional dan independen, tetapi juga mampu menjadi mitra strategis dalam pembangunan nasional.
“Seluruh divisi harus segera bergerak menyusun program kerja yang realistis dan dapat dijalankan demi kemajuan organisasi,” tegas AYS Prayogie di hadapan peserta rapat.
Arahan tersebut mendapat dukungan penuh dari jajaran pengurus pusat yang hadir. Forum semakin berbobot dengan kehadiran Ketua Dewan Pembina MIO Indonesia Taufiq Rahman, SH, S.Sos, Wakil Dewan Pembina Anto Suroto, SE, MSc, MM, serta anggota Dewan Komisi Etik Arthur Noija, SH, MH.
Turut hadir Wakil Ketua Umum I Ir. Agung Karang dan Wakil Ketua Umum II A. Bahrul BD bersama para pimpinan divisi yang selama ini menjadi motor penggerak program-program organisasi di berbagai bidang.
Keberadaan para pengurus dari berbagai divisi menunjukkan kuatnya komitmen kolektif untuk membangun MIO Indonesia secara terintegrasi. Hadir pula Ketua PLT Divisi Organisasi, Kaderisasi dan Keanggotaan Alam Massiri, S.Ag, Ketua Divisi Pengawasan Internal dan Kepatuhan Organisasi Daeng Lukman Wijaya bersama Ferry Harto, Ketua Divisi Diklat dan Sertifikasi Gus Sigit Santosa bersama Muhammad Manshur, Ketua Divisi Ekonomi Kreatif, Usaha dan Kesejahteraan Anggota Anie Rochania Maya bersama Anggie D’ Rose, serta Ketua Divisi Perempuan, Anak dan Kelompok Rentan Sussy Ikigai.
Suasana rapat semakin hidup dengan kehadiran Ketua Divisi Hubungan Daerah dan Pengembangan Wilayah Murfito Adhi bersama Tata Rusmanto dan Subhan Akib, SH, M.Ikom yang selama ini aktif memperluas jaringan organisasi di berbagai daerah Indonesia.
Memasuki sesi pembahasan program kerja yang dipimpin Wakil Ketua Umum I Agung Karang, Wakil Ketua Umum II A. Bahrul BD, dan Wakil Sekretaris Jenderal I Abdul Hapid, peserta rapat melakukan evaluasi sekaligus pemetaan agenda prioritas organisasi untuk tahun berjalan.
Salah satu keputusan paling penting yang dihasilkan adalah kesepakatan pelaksanaan kegiatan Bela Negara yang direncanakan berlangsung pada Agustus 2026. Program tersebut dipandang bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan wahana pembentukan karakter kebangsaan bagi insan pers sekaligus sarana memperkuat soliditas organisasi menjelang agenda nasional yang lebih besar.
Forum juga menyepakati susunan kepanitiaan kegiatan Bela Negara. Gus Sigit Santosa dipercaya memimpin kepanitiaan sebagai Ketua Panitia, didampingi Abdul Hapid sebagai Sekretaris dan Cuncun sebagai Bendahara.
Menurut Gus Sigit Santosa, waktu pelaksanaan masih akan dimatangkan lebih lanjut melalui koordinasi bersama Ketua Umum agar pelaksanaan kegiatan dapat berlangsung optimal dan memberikan dampak maksimal bagi organisasi.
“Waktu dan tanggal pelaksanaan kegiatan masih tentatif dan akan ditetapkan secara final setelah ada arahan dan masukan dari Ketua Umum,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum I Agung Karang menegaskan bahwa kegiatan Bela Negara merupakan bagian integral dari persiapan menuju Rakernas II MIO Indonesia yang akan menjadi forum konsolidasi terbesar organisasi pada tahun 2026.
Rakernas tersebut direncanakan menghadirkan delegasi pengurus tingkat provinsi hingga kabupaten dan kota dari seluruh Indonesia. Karena itu, persiapan yang matang menjadi faktor penting untuk memastikan suksesnya agenda nasional tersebut.
“Kegiatan Bela Negara adalah sebagai pemanasan jelang penyelenggaraan Rakernas MIO Indonesia ke-2 yang nantinya akan dihadiri perwakilan pengurus tingkat provinsi maupun kabupaten/kota dari seluruh Indonesia,” ungkap Agung Karang.
Di sisi lain, Ketua Divisi Pengawasan Internal dan Kepatuhan Organisasi, Daeng Lukman Wijaya, menyatakan kesiapan jajarannya untuk mengawal seluruh proses pelaksanaan agenda organisasi. Pengawasan yang baik, menurutnya, menjadi elemen penting dalam menjaga kredibilitas dan profesionalisme organisasi.
Komitmen tersebut sejalan dengan semangat tata kelola organisasi yang transparan, akuntabel, dan berorientasi pada hasil yang menjadi salah satu fokus penguatan kelembagaan MIO Indonesia saat ini.
Menjelang penutupan rapat, Ketua Dewan Pembina MIO Indonesia Taufiq Rahman memberikan sejumlah arahan strategis kepada panitia dan pengurus pusat. Ia menekankan pentingnya mempertimbangkan aspek waktu, efektivitas pelaksanaan, serta efisiensi pembiayaan agar seluruh peserta, khususnya pengurus daerah dari luar Pulau Jawa, dapat mengikuti kegiatan dengan baik.
Menurutnya, keberhasilan sebuah agenda nasional tidak hanya ditentukan oleh besarnya kegiatan, tetapi juga oleh kualitas perencanaan dan kemampuan organisasi dalam mengakomodasi seluruh kebutuhan peserta secara proporsional.
Rapat pengurus pusat kali ini menjadi bukti bahwa MIO Indonesia tengah memasuki fase baru pembangunan organisasi yang lebih terstruktur dan berorientasi jangka panjang. Agenda Bela Negara dan Rakernas II diposisikan bukan hanya sebagai kegiatan rutin tahunan, melainkan sebagai instrumen strategis untuk memperkuat kapasitas organisasi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperluas jaringan nasional, serta memperkokoh semangat kebangsaan di kalangan insan pers.
Di tengah perubahan lanskap media yang bergerak cepat akibat perkembangan teknologi digital, MIO Indonesia berupaya menegaskan perannya sebagai organisasi pers yang adaptif, progresif, dan mampu menjawab tantangan zaman. Konsolidasi nasional yang kini sedang dibangun menjadi fondasi penting bagi langkah besar organisasi dalam memperkuat kontribusinya terhadap demokrasi, literasi informasi, dan pembangunan bangsa Indonesia di masa depan (Har).
