Rutan Gresik Perang Melawan Celah Keamanan, Kakanwil Ditjenpas Jatim Dorong Pengawasan Total dan Transformasi Pemasyarakatan

Gresik, – Top Berita Nusantara Rutan Kelas IIB Gresik terus memperkuat langkah strategis dalam menjaga keamanan dan meningkatkan kualitas pelayanan pemasyarakatan di tengah tuntutan reformasi birokrasi yang semakin dinamis. Penguatan sistem pengamanan, optimalisasi pembinaan warga binaan, peningkatan transparansi publik, hingga pengembangan program kemandirian menjadi fokus utama yang kini dijalankan secara terintegrasi sebagai bagian dari transformasi pemasyarakatan menuju institusi yang modern, profesional, dan berintegritas.
Komitmen tersebut semakin diperkuat setelah jajaran Rutan Gresik mengikuti kegiatan Pengarahan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur terkait Tugas dan Fungsi Teknis Pemasyarakatan yang diselenggarakan secara virtual melalui Zoom Meeting, Kamis (25/06). Kegiatan ini menjadi forum strategis yang mempertemukan seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan di Jawa Timur untuk memperkuat koordinasi, menyamakan persepsi, dan memastikan seluruh kebijakan nasional pemasyarakatan dapat diimplementasikan secara optimal hingga tingkat pelaksana.
Pelaksana Harian (Plh.) Kepala Rutan Gresik, Dhimas Isdwiyono, mengikuti kegiatan tersebut bersama jajaran pejabat struktural, komandan jaga, petugas Pintu Utama (P2U), dan anggota regu pengamanan. Keterlibatan seluruh unsur pengamanan menunjukkan keseriusan Rutan Gresik dalam menjadikan aspek keamanan sebagai prioritas utama dalam pelaksanaan tugas dan fungsi pemasyarakatan.
Dalam arahannya, Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Jawa Timur, Kusnali, menegaskan bahwa keamanan dan ketertiban merupakan pondasi utama yang menentukan keberhasilan seluruh program pemasyarakatan. Tanpa sistem pengamanan yang kuat dan pengawasan yang konsisten, berbagai program pembinaan maupun pelayanan kepada warga binaan tidak akan berjalan secara maksimal.
Karena itu, seluruh petugas diminta meningkatkan kewaspadaan serta memperkuat deteksi dini terhadap berbagai potensi gangguan keamanan yang dapat muncul kapan saja. Kusnali menekankan bahwa budaya deteksi dini harus menjadi bagian dari pola kerja seluruh petugas, bukan hanya menjadi tanggung jawab regu pengamanan semata.
Menurutnya, berbagai ancaman seperti penyelundupan telepon genggam ilegal, narkotika, obat-obatan terlarang, serta barang-barang yang dilarang masuk ke lingkungan pemasyarakatan harus dicegah sejak awal melalui sistem pemeriksaan yang ketat dan pengawasan berlapis.
Petugas Pintu Utama (P2U) dan jajaran pengamanan disebut memiliki peran vital sebagai garda terdepan dalam menjaga sterilitas area pemasyarakatan. Oleh sebab itu, seluruh aktivitas keluar masuk orang maupun barang harus dilakukan melalui mekanisme pemeriksaan yang disiplin, profesional, dan sesuai standar operasional prosedur yang berlaku.
Selain penguatan aspek keamanan, Kusnali juga mendorong seluruh UPT untuk meningkatkan publikasi berbagai kegiatan positif yang dilaksanakan di lingkungan pemasyarakatan. Menurutnya, keterbukaan informasi publik merupakan bagian dari upaya membangun kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemasyarakatan yang saat ini terus melakukan pembenahan dan inovasi pelayanan.
Berbagai program pembinaan kepribadian, pelatihan keterampilan kerja, kegiatan sosial, hingga hasil karya warga binaan perlu dipublikasikan secara luas agar masyarakat dapat melihat secara langsung bahwa pemasyarakatan memiliki fungsi strategis dalam membentuk pribadi yang lebih baik dan produktif.
Dalam bidang pelayanan, seluruh satuan kerja juga diingatkan untuk melaksanakan Sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) secara profesional dengan melibatkan Kantor Wilayah sebagai bagian dari fungsi pengawasan. Selain itu, persiapan usulan Remisi Hari Anak yang akan diberikan pada bulan Juli mendatang harus dilakukan secara cermat, objektif, dan sesuai dengan regulasi yang berlaku.
Pemenuhan hak warga binaan, termasuk pemberian remisi bagi yang memenuhi persyaratan, menjadi salah satu indikator penting dalam mewujudkan sistem pemasyarakatan yang berkeadilan dan berorientasi pada pembinaan.
Tak hanya itu, seluruh UPT juga diminta mendukung program ketahanan pangan nasional melalui pemanfaatan lahan produktif yang tersedia di masing-masing satuan kerja. Program ini tidak hanya bertujuan mendukung ketersediaan pangan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran keterampilan dan peningkatan kemandirian warga binaan.
Melalui program tersebut, warga binaan diharapkan memiliki pengalaman kerja dan kemampuan produktif yang dapat menjadi bekal penting ketika kembali ke tengah masyarakat setelah menyelesaikan masa pidana.
Sementara itu, terkait kondisi hunian, Kusnali meminta UPT yang mengalami overstaying maupun overkapasitas untuk segera melaporkan data secara akurat kepada Kantor Wilayah guna dilakukan pemetaan dan tindak lanjut yang tepat. Langkah tersebut penting untuk menjaga stabilitas keamanan sekaligus memastikan program pembinaan dapat berjalan secara efektif dan optimal.
Menanggapi berbagai arahan tersebut, Plh. Kepala Rutan Gresik, Dhimas Isdwiyono, menegaskan bahwa seluruh jajaran siap menjalankan setiap kebijakan dan instruksi yang telah disampaikan oleh Kantor Wilayah Ditjenpas Jawa Timur.
“Kami berkomitmen memperkuat pengamanan, meningkatkan deteksi dini, menjaga integritas petugas, mengoptimalkan pembinaan warga binaan, serta mendukung seluruh program prioritas pemasyarakatan. Dengan kerja sama yang solid dan profesionalisme yang terus ditingkatkan, kami optimistis mampu menghadirkan layanan pemasyarakatan yang aman, tertib, dan semakin dipercaya masyarakat,” tegas Dhimas.
Melalui penguatan pengawasan, peningkatan kualitas pelayanan, serta pengembangan program pembinaan yang berkelanjutan, Rutan Kelas IIB Gresik terus menunjukkan kesiapannya menjadi bagian penting dalam transformasi pemasyarakatan nasional. Di tengah berbagai tantangan yang semakin kompleks, komitmen terhadap keamanan, integritas, dan pelayanan publik tetap menjadi landasan utama dalam mewujudkan lembaga pemasyarakatan yang bersih, humanis, produktif, dan berdaya saing.
Langkah-langkah tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa transformasi pemasyarakatan tidak hanya diwujudkan melalui kebijakan, tetapi juga melalui tindakan nyata yang dilakukan secara konsisten demi menciptakan lingkungan pemasyarakatan yang aman, tertib, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat serta masa depan warga binaan (Har).
