“Bullying Sadis 9 Remaja di Jember Terkuak: MAKI Jatim Tegas Tolak Damai, Dugaan Intimidasi dan ‘Main Mata’ Penanganan Kasus Disorot”

JemberTop Berita Nusantara Rabu (15/4/26) Kasus dugaan pengeroyokan disertai perundungan brutal terhadap pelajar berinisial F (15) di Kabupaten Jember terus memantik kemarahan publik. Peristiwa yang dinilai sebagai bentuk bullying ekstrem ini kini mendapat perhatian serius dari Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur, yang secara tegas menolak segala bentuk penyelesaian damai dan mendesak proses hukum berjalan tanpa kompromi.

Ketua MAKI Jatim, Heru, menegaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan tim bantuan hukum gratis untuk mendampingi keluarga korban. Ia menilai kasus ini tidak bisa diselesaikan secara kekeluargaan, mengingat tingkat kekerasan fisik dan mental yang dialami korban.

“Saya tetap dorong proses hukum pelaku dan tidak ada mediasi atau ganti rugi. Kami sudah siapkan tim penasihat hukum untuk keluarga korban atas kejadian pengeroyokan yang diduga dilakukan oleh sembilan orang,” tegasnya.

Dalam waktu dekat, tim MAKI Jatim dijadwalkan turun langsung ke Desa Kencong untuk menemui keluarga korban, sekaligus memastikan pendampingan hukum berjalan optimal. Tak hanya itu, MAKI juga akan berkoordinasi dengan aparat penegak hukum, termasuk Polsek Jombang Jember, guna mempertanyakan sejauh mana perkembangan penanganan kasus tersebut.

Sorotan tajam juga diarahkan pada dugaan intimidasi terhadap keluarga korban. Heru mengecam keras upaya pihak tertentu yang diduga menekan korban agar tidak melanjutkan perkara ke jalur hukum.

“Kami mengecam adanya intimidasi yang menakut-nakuti korban dan keluarganya. Ini tidak boleh terjadi. Kami juga akan berkoordinasi dengan Polda Jawa Timur, khususnya Propam, untuk memberikan asistensi agar penanganan kasus ini tidak melenceng,” ujarnya.

Peristiwa memilukan itu terjadi pada Sabtu malam, 28 Maret 2026, di area persawahan Bulakan Kecik, Desa Keting, Kecamatan Jombang, Jember. Korban diduga dijemput oleh sekelompok pemuda menggunakan sepeda motor, lalu dibawa ke lokasi sepi sebelum dianiaya secara brutal.

Baca Juga :  MAKI Jatim:Kepergian Akhmad Miftachul Ulum Tinggalkan Duka Mendalam bagi Organisasi Kemasyarakatan di Jawa Timur

Menurut keterangan Paiman, ayah korban, anaknya menjadi sasaran pengeroyokan oleh sekitar sembilan orang. “Satu di antaranya teman SMP korban, sementara delapan lainnya tidak dikenal,” ungkapnya.

Tak hanya kekerasan fisik berupa pukulan, tendangan, hingga kepala diinjak, korban juga mengalami perundungan mental yang sangat berat. Dalam kondisi tertekan, korban dipaksa melepas pakaian hingga hanya mengenakan celana dalam, bahkan dipaksa berendam di parit. Lebih memprihatinkan, aksi tersebut direkam dan videonya tersebar luas di media sosial, termasuk di lingkungan sekolah korban.

“Video saat anak saya ditelanjangi sudah beredar di grup sekolah. Setelah kejadian, dia pulang berjalan kaki sekitar tiga kilometer,” tutur Paiman.

Kakak korban, Toni, mengungkapkan bahwa sejak awal keluarga terduga pelaku berupaya mendorong penyelesaian secara kekeluargaan. Hal senada disampaikan ibu korban, Samiati, yang mengaku sempat melakukan negosiasi kompensasi.

Namun, proses tersebut dinilai janggal. Meski sempat disepakati sejumlah uang sebagai ganti rugi, hingga kini pembayaran belum terealisasi, sementara pihak korban telah diminta menandatangani pencabutan laporan.

Lebih jauh, Samiati mengaku mendapat tekanan agar tidak melanjutkan kasus ke ranah hukum. “Ada yang menakut-nakuti, kalau lanjut nanti ada biaya,” ungkapnya.

Perkembangan penanganan kasus ini pun memunculkan tanda tanya besar. Dari sembilan terduga pelaku, dua di antaranya dilaporkan melarikan diri ke luar daerah, sementara satu pelaku lainnya disebut masih di bawah umur sehingga tidak dapat diproses secara hukum, meski diduga memiliki peran signifikan dalam aksi kekerasan tersebut.

Sementara itu, upaya konfirmasi media kepada pihak kepolisian pada 13 April 2026 belum membuahkan hasil. Pihak Reskrim Polsek Jombang Jember enggan memberikan keterangan dan menyarankan konfirmasi langsung kepada Kapolsek yang saat itu tidak berada di tempat.

Baca Juga :  Selain Pengawasan, MAKI Jatim Bagikan 1000 Paket Takjil Beragam di Jalan Ahmad Yani Surabaya

Kasus ini menjadi potret buram masih maraknya praktik bullying ekstrem di kalangan remaja. Tekanan publik kini semakin menguat, mendesak aparat penegak hukum untuk bertindak tegas, transparan, dan profesional dalam mengusut tuntas kasus tersebut tanpa intervensi pihak manapun (Red).

Leave a Reply