Safari Ramadan Lapas Banyuwangi:Bawa Perubahan Lewat Inovasi Produktif dan Kepedulian Sosial yang Nyata

BanyuwangiTop Berita Nusantara Momentum bulan suci Ramadan tahun ini dimanfaatkan secara optimal oleh jajaran pemasyarakatan untuk memperkuat peran sosial dan produktif lewat kegiatan Safari Ramadan yang digelar di Banyuwangi, Jawa Timur, pada Senin (16/3). Kegiatan ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan bukti nyata bahwa lembaga pemasyarakatan tidak hanya berfokus pada pembinaan warga binaan, tetapi juga memberikan kontribusi langsung dan berarti bagi masyarakat sekitar.

Rombongan kunjungan dipimpin langsung oleh Kepala Kantor Wilayah Ditjen Pemasyarakatan Jawa Timur, Kadiyono, yang didampingi para pejabat struktural serta Kepala Satuan Kerja Pemasyarakatan di wilayah Koordinator Wilayah Jember. Kehadiran mereka disambut hangat oleh jajaran Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Banyuwangi dan masyarakat sekitar yang turut meramaikan seluruh rangkaian kegiatan tersebut.

Kegiatan diawali dengan penyaluran bantuan sosial kepada masyarakat di sekitar lingkungan lapas. Langkah ini merupakan wujud kepedulian nyata sekaligus upaya strategis untuk mempererat hubungan baik antara institusi pemasyarakatan dengan lingkungan sekitarnya. Bantuan yang disalurkan diharapkan dapat memberikan manfaat langsung bagi para penerima, serta semakin mempererat kedekatan antara warga binaan, petugas lapas, dan masyarakat luas.

Salah satu agenda utama yang menjadi sorotan utama dalam kegiatan ini adalah peresmian Sawah Gunung Cafe. Fasilitas ini merupakan unit usaha hasil dari program pembinaan kemandirian warga binaan yang dikembangkan oleh Lapas Banyuwangi. Sawah Gunung Cafe hadir sebagai inovasi yang mengedepankan pemberdayaan melalui kegiatan produktif, sekaligus berfungsi sebagai ruang edukasi terbuka bagi masyarakat untuk melihat secara langsung proses pembinaan yang berjalan di dalam lingkungan lapas.

Dalam sambutannya, Kepala Lapas Banyuwangi menyampaikan apresiasi yang mendalam atas kunjungan Kakanwil beserta jajarannya. Ia menegaskan bahwa program pembinaan di lapas terus dikembangkan secara berkelanjutan, khususnya pada sektor kemandirian yang bertujuan membekali warga binaan dengan berbagai keterampilan yang bermanfaat saat mereka nantinya kembali ke masyarakat dan memulai hidup baru.

Baca Juga :  “MAKI Jawa Timur Desak Pemerintah Tegakkan Integritas: Heru Satriyo Ingatkan Pejabat agar Tidak Menyalahgunakan Kekuasaan”

Rangkaian kegiatan Safari Ramadan kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pertanian yang menjadi bagian dari program unggulan pembinaan di Lapas Banyuwangi. Kadiyono bersama rombongan turut terlibat langsung dalam berbagai aktivitas pertanian, mulai dari panen padi, penanaman cabai, hingga memanen hasil kebun berupa buncis dan kacang panjang yang seluruhnya dikelola oleh warga binaan. Kegiatan ini membuktikan bahwa pembinaan tidak hanya terbatas pada ruang kelas, tetapi juga melibatkan kegiatan praktis yang memiliki nilai ekonomi dan sosial yang tinggi.

Dalam arahannya, Kadiyono menegaskan bahwa wilayah Koordinator Wilayah Jember telah menunjukkan komitmen yang sangat kuat dalam mengimplementasikan konsep pemasyarakatan yang berdampak positif bagi masyarakat luas. Ia menekankan bahwa keberadaan lapas harus mampu memberikan manfaat nyata, tidak hanya bagi warga binaan yang sedang menjalani pembinaan, tetapi juga bagi lingkungan sekitarnya.

“Keberadaan lapas harus menjadi bagian dari solusi sosial. Program seperti ini membuktikan bahwa pembinaan dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dan bernilai bagi masyarakat,” ujar Kadiyono.

Ia juga menyoroti bahwa program berbasis kemandirian seperti yang diterapkan di Banyuwangi dapat menjadi sarana edukasi yang efektif bagi masyarakat dan pelajar untuk memahami proses pembinaan secara langsung. Hal ini diharapkan dapat mengubah stigma negatif yang selama ini sering melekat pada lembaga pemasyarakatan, menjadi pandangan yang lebih positif, terbuka, dan memahami.

Sebagai penutup rangkaian kegiatan Safari Ramadan, Kakanwil bersama jajaran melakukan penandatanganan kata pengantar pada Al-Qur’an raksasa. Al-Qur’an raksasa ini merupakan hasil karya luar biasa dari pembinaan keagamaan warga binaan di Lapas Banyuwangi. Karya tersebut menjadi simbol keberhasilan pembinaan spiritual yang berjalan seiring dengan program kemandirian, menunjukkan bahwa pembinaan di lapas mencakup aspek fisik, mental, dan spiritual secara menyeluruh.

Baca Juga :  Bea Cukai Sidoarjo Musnahkan Puluhan Juta Rokok Ilegal, Tegaskan Komitmen Lindungi Penerimaan Negara dan Konsumen

Kegiatan Safari Ramadan ini diharapkan mampu memperkuat sinergi yang erat antara pemasyarakatan dan masyarakat, sekaligus menegaskan bahwa program pembinaan di lapas tidak hanya berorientasi pada perbaikan individu warga binaan, tetapi juga memberikan nilai manfaat yang luas bagi lingkungan sekitarnya. Dengan langkah-langkah inovatif dan berkelanjutan seperti ini, lapas diharapkan semakin menjadi lembaga yang bermanfaat dan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat luas (Har)

Leave a Reply