Maki Jatim dan Laskar Jahanam Jember 12 Desa Bersatu, Imasco Diujung Tekanan: Dari Krisis Lingkungan Menuju Panggung Nasional”

JEMBER, 18 April 2026 — TOP BERITA NUSANTARA Eskalasi penolakan terhadap operasional pabrik semen Singa Merah milik PT Imasco Asiatic memasuki fase baru yang lebih terorganisir dan masif. Konsolidasi yang melibatkan warga dari 12 desa terdampak bersama Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Jawa Timur dan Laskar Jahanam Jember menandai transformasi gerakan dari sekadar keluhan lokal menjadi perlawanan kolektif yang diarahkan ke level nasional dengan satu tuntutan utama: penghentian operasional pabrik.
Langkah awal gerakan ini dimulai pada Jumat, 17 April 2026, melalui pertemuan internal antara Ketua MAKI Jawa Timur, Heru, dan Ketua Laskar Jahanam Jember, Dwi Agus, beserta jajaran masing-masing. Agenda utama pertemuan tersebut adalah merumuskan strategi konsolidasi dan memperkuat sinergi dalam merespons akumulasi persoalan yang dikeluhkan masyarakat terdampak.
Momentum berlanjut pada Sabtu pagi, 18 April 2026, saat kedua organisasi turun langsung ke tengah masyarakat. Dalam forum silaturahmi yang dikemas sebagai konsolidasi terbuka, perwakilan warga dari 12 desa menyampaikan berbagai keluhan yang selama ini dirasakan namun belum menemukan solusi konkret.
Sejumlah persoalan krusial mencuat dalam forum tersebut. Kebisingan mesin produksi yang berlangsung tanpa henti selama 24 jam dinilai telah melampaui ambang batas toleransi. Di sektor pertanian, petani tembakau mengeluhkan penurunan kualitas hasil panen yang diduga kuat akibat paparan polusi dari pembakaran batu bara. Sementara itu, gangguan kesehatan, khususnya pada sistem pernapasan, semakin sering dialami warga yang tinggal di sekitar area pabrik.
Kekecewaan juga mengemuka terkait minimnya realisasi penyerapan tenaga kerja lokal. Janji perusahaan untuk memberdayakan masyarakat sekitar dinilai tidak berjalan sesuai komitmen awal, sehingga memperdalam ketimpangan sosial di wilayah terdampak.
Dampak ekonomi turut menjadi sorotan tajam, terutama bagi masyarakat Desa Grenden. Aktivitas produksi gamping yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi lokal kini terancam akibat pergeseran penggunaan material bangunan ke semen produksi pabrik. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan runtuhnya ekosistem ekonomi tradisional yang telah lama menopang kehidupan warga.
Seluruh rangkaian persoalan tersebut kemudian dirumuskan menjadi dasar kesepakatan bersama untuk menggelar pertemuan akbar. Agenda ini akan menjadi prolog menuju aksi demonstrasi besar sebagai bentuk tekanan publik agar operasional PT Imasco Asiatic dihentikan.
Di sisi lain, MAKI Jawa Timur mulai mengintensifkan langkah hukum dan investigatif. Melalui proses pengumpulan bahan dan keterangan, organisasi ini mendalami dugaan adanya ketidaksesuaian dalam dokumen perizinan perusahaan. Fokus utama mencakup analisis terhadap dokumen AMDAL, Amdalalin, serta kajian drainase yang diduga tidak merepresentasikan kondisi faktual di lapangan.
Upaya advokasi juga diarahkan ke tingkat nasional. MAKI Jawa Timur berencana mengajukan rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI, sekaligus mengirimkan surat terbuka kepada Prabowo Subianto guna menyampaikan secara langsung dampak multidimensi yang dialami masyarakat.
“Langkah ini bukan sekadar aksi, tetapi bentuk tanggung jawab bersama untuk memastikan masyarakat mendapatkan perlindungan atas hak hidup yang layak di lingkungannya,” ujar Heru menegaskan.
Dengan konsolidasi yang semakin solid dan dukungan lintas elemen masyarakat yang terus menguat, dinamika penolakan terhadap PT Imasco Asiatic kini berkembang menjadi isu strategis yang berpotensi menggema di tingkat Jawa Timur hingga nasional (Red).
