UMKM Toyoresmi Kediri Tembus Pasar Digital: Getuk Pisang dan Sari Kedelai Jadi Motor Baru Kebangkitan Ekonomi Desa

Kediri -Top Berita Nusantara Gelombang kebangkitan ekonomi berbasis desa mulai terlihat nyata di Desa Toyoresmi, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri. Melalui inovasi produk olahan lokal berupa getuk pisang dan sari kedelai, kelompok Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) setempat berhasil mengubah potensi hasil pertanian warga menjadi produk bernilai ekonomi tinggi yang kini mulai menembus pasar digital dan menarik perhatian konsumen luar daerah.

Perkembangan UMKM tersebut menjadi simbol tumbuhnya kemandirian ekonomi masyarakat desa yang mampu mengolah sumber daya lokal menjadi produk unggulan dengan daya saing tinggi. Produk getuk pisang dan sari kedelai yang diproduksi warga kini telah dipasarkan ke berbagai warung, pasar tradisional, koperasi desa, hingga platform penjualan online.

Ketua UMKM Kelud Mandiri Desa Toyoresmi, Gatot, mengatakan usaha tersebut bermula dari produksi rumahan sederhana untuk kebutuhan keluarga sebelum akhirnya berkembang menjadi usaha bersama masyarakat sejak tahun 2022.

“Kami awalnya hanya membuat untuk konsumsi keluarga. Namun karena banyak tetangga yang memesan, akhirnya kami membentuk kelompok kecil dan mulai memproduksi secara rutin,” ujarnya pada Senin (25/5/2026).

Getuk pisang khas Toyoresmi dibuat menggunakan pisang kepok dan pisang ambon hasil kebun warga yang sebelumnya sering tidak terserap pasar. Kini, buah tersebut diolah menjadi makanan tradisional bernilai jual tinggi melalui proses produksi yang masih mempertahankan resep turun-temurun.

Pisang dikukus, ditumbuk hingga halus, lalu dicampur gula aren lokal dan kelapa parut sehingga menghasilkan rasa manis alami dengan tekstur padat dan khas. Produk tersebut kemudian dikemas dalam bentuk kotak kecil menyerupai dadu agar lebih menarik dan praktis dipasarkan.

Dalam sehari, kelompok UMKM mampu memproduksi sekitar 80 hingga 100 bungkus getuk pisang. Produk tersebut dijual dengan harga Rp17 ribu per bungkus dan disebut mampu bertahan hingga dua minggu tanpa menggunakan bahan pengawet.

Baca Juga :  Hari Santri Nasional 2025: MAKI Jatim Dorong Santri Jadi Pilar Peradaban dan Penegak Integritas Bangsa

Selain getuk pisang, kelompok ibu-ibu PKK Desa Toyoresmi juga mengembangkan produk sari kedelai kemasan botol sebagai alternatif minuman sehat bagi masyarakat. Produk ini dibuat dari kedelai pilihan yang melalui proses perendaman, penggilingan, perebusan, hingga penyaringan untuk menghasilkan minuman rendah gula dengan cita rasa alami.

Varian rasa yang tersedia meliputi original, jahe, dan pandan. Sari kedelai tersebut dijual seharga Rp8 ribu per botol ukuran 250 mililiter dan mulai dipasarkan melalui koperasi desa serta warung-warung di jalur Ngasem menuju Kota Kediri.

“Sari kedelai ini dibuat tanpa bahan pengawet. Banyak pembeli dari luar desa yang memesan untuk sarapan maupun teman bekerja,” kata Gatot.

Dukungan terhadap pengembangan UMKM lokal juga datang dari Pemerintah Desa Toyoresmi. Kepala Desa Toyoresmi, Gatot Siswanto, menyampaikan bahwa produk getuk pisang dan sari kedelai telah menjadi bagian dari program prioritas desa dalam penguatan ekonomi keluarga dan pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal.

Pemerintah desa, lanjutnya, turut membantu pelaku UMKM dalam pengurusan izin P-IRT, pengembangan desain kemasan, hingga pelatihan pemasaran digital agar produk mampu bersaing di pasar yang lebih luas dan modern.

Saat ini, produk berlabel GTT tersebut juga dipasarkan melalui WhatsApp dan marketplace lokal wilayah Kediri. Untuk pemesanan luar kota, pengiriman dilakukan dengan sistem pre-order guna menjaga kualitas dan kesegaran produk saat diterima konsumen.

Meski mengalami perkembangan yang cukup pesat, para pelaku UMKM mengaku masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait keterbatasan kapasitas produksi dan ketersediaan bahan baku saat musim hujan. Selain itu, kebutuhan alat produksi modern serta kemasan yang lebih standar juga menjadi perhatian agar produk dapat naik kelas dan menjangkau pasar yang lebih luas.

Baca Juga :  Janji Suci di Sukorejo: Pernikahan Khidmat Sandrina Chika Aulia dan Fatekur Rochman Dipenuhi Doa dan Kebahagiaan

Namun demikian, semangat para pelaku usaha desa untuk terus berkembang tetap tinggi. Mereka optimistis produk lokal Toyoresmi mampu menjadi identitas baru desa sekaligus penggerak ekonomi masyarakat secara mandiri dan berkelanjutan.

“Kami berharap Desa Toyoresmi dikenal bukan hanya karena lokasinya, tetapi juga karena produknya. Getuk pisang dan sari kedelai ini menjadi bukti bahwa desa bisa mandiri dan memiliki daya saing,” tutup Gatot (Hs).

Leave a Reply