UMKM Toyoresmi Kediri Dorong Ekonomi Desa Lewat Getuk Pisang dan Sari Kedelai

KEDIRI – TBN | Dua produk olahan lokal dari Desa Toyoresmi, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, mulai mencuri perhatian pasar. Getuk pisang dan sari kedelai produksi kelompok UMKM desa ini kini merambah warung, pasar tradisional, hingga penjualan online.
Olah Pisang Berlebih Jadi Nilai Ekonomi
Getuk pisang Toyoresmi dibuat dari pisang kepok/ambon yang banyak tumbuh di kebun warga. Sebelumnya, buah yang tak terserap pasar sering terbuang. Kini, pisang diolah menjadi getuk dengan resep turun-temurun: dikukus, ditumbuk, lalu diberi gula aren dan kelapa parut.
“Kami awalnya hanya buat untuk konsumsi keluarga. Lama-lama tetangga pesan, akhirnya kami bentuk kelompok kecil tahun 2022,” kata Gatot ketua UMKM Kelud Mandiri Desa Toyoresmi.
Dalam sehari, kelompok ini mampu memproduksi 80-100 bungkus getuk yang sudah dikemas kotak kotak seperti dadu. Harga jualnya Rp.17.000 per bungkus. Ciri khasnya adalah tekstur yang lebih padat dan rasa manis alami dari gula aren lokal, bisa tahan 2 Minggu tanpa bahan pengawet.
Sari Kedelai Jadi Alternatif Minuman Sehat
Bersamaan dengan itu, kelompok ibu-ibu PKK Toyoresmi mengembangkan sari kedelai kemasan botol. Kedelai direndam, digiling, dimasak, lalu disaring hingga menghasilkan minuman yang rendah gula. Varian rasa yang tersedia adalah original, jahe, dan pandan.
“Sari kedelai ini kami buat tanpa pengawet. Tahan 3 hari di kulkas. Banyak pembeli dari luar desa yang pesan untuk sarapan dan teman kerja,” ujar Gatot.
Harga jual sari kedelai dibanderol Rp8.000 per botol 250ml. Produk ini mulai dititipkan di koperasi desa dan beberapa warung di sepanjang jalur Ngasem-Kediri Kota.
Dukungan Pemerintah Desa dan Pasar Online
Kepala Desa Toyoresmi Gatot Siswanto yang juga Ketua UMKM Kelud Mandiri mengatakan, produk UMKM ini masuk dalam program prioritas desa untuk penguatan ekonomi keluarga. “Kami bantu dari sisi perizinan P-IRT, kemasan, sampai pelatihan pemasaran digital,” katanya.
Saat ini, getuk pisang dan sari kedelai Toyoresmi yang berlabel GTT juga dipasarkan lewat WhatsApp dan marketplace lokal Kediri. Pesanan luar kota biasanya dikirim via ekspedisi dengan sistem PO agar produk tetap segar.
Tantangan dan Harapan
Kendala utama yang dihadapi adalah kapasitas produksi dan konsistensi bahan baku saat musim hujan. Namun, pelaku UMKM optimistis bisa naik kelas jika ada bantuan alat produksi dan kemasan yang lebih standar.
“Kami harap desa Toyoresmi bisa dikenal bukan cuma karena lokasinya, tapi juga karena produknya. Getuk pisang dan sari kedelai ini bukti kalau desa bisa mandiri,” tutup Gatot.
Produk ini bisa dipesan langsung dengan menghubungi kelompok UMKM Desa Toyoresmi melalui perangkat desa setempat. ( Hs )
