RDP Tambang Tanjung Rejo Jadi Panggung Penghinaan: Pemilik Izin Menghilang, Nyawa Warga Seolah Tak Berharga

Probolinggo, 2 April 2026 —
Kesabaran warga Tanjung Rejo tampaknya telah mencapai batas akhir. Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang seharusnya menjadi jalan keluar justru berubah menjadi simbol kegagalan total, bahkan lebih dari itu, menjadi panggung terbuka yang mempertontonkan bagaimana rakyat kecil dipermainkan tanpa rasa malu.
Di saat warga datang membawa luka, trauma, dan daftar korban, pihak perusahaan tambang justru memilih “menghilang”. Tidak ada pemilik izin. Tidak ada pengambil keputusan. Yang hadir hanyalah perwakilan tanpa kuasa, sebuah formalitas kosong yang bagi warga terasa seperti tamparan keras di wajah mereka sendiri.
Ini bukan sekadar ketidakhadiran. Ini adalah bentuk pembangkangan moral.
“Kalau nyawa kami penting, mereka pasti datang. Tapi nyatanya? Tidak ada!” teriak seorang warga dengan suara pecah, memecah suasana yang sejak awal sudah tegang.
Apa yang terjadi di Tanjung Rejo bukan lagi soal aktivitas ekonomi. Ini adalah bencana yang berjalan setiap hari, diizinkan tumbuh tanpa kendali, dan perlahan menggerus keselamatan warga.
Jalan desa berubah menjadi lintasan maut. Aspal hancur, debu menyesakkan, drainase lumpuh, semuanya menjadi saksi bisu bagaimana tambang menghisap keuntungan sambil meninggalkan kehancuran. Namun yang paling mengerikan bukanlah kerusakan fisik. Yang paling mengerikan adalah korban manusia.
Satu per satu jatuh, luka, mati hanya sebagai bagian dari tontonan berdarah, Seorang ayah, Bapak Toali, dirinya harus tersungkur di depan sekolah dengan menyisahkan luka di tubuhnya, Anak-anak sekolah yang seharusnya menatap masa depan, justru jadi korban di jalan perlintasan armada tambang, Pedagang kecil juga mengalami nasib yang sama ketika dia harus berkeliling menawarkan dagangannya, dirinya meregang nyawa karena terlindas dan mati sia sia. Bahkan sopir truk sendiri — menjadi korban dari sistem yang ia jalankan
Ini bukan lagi kecelakaan. Ini pola. Ini kelalaian yang dibiarkan berulang.
“Tambang ini bukan cari untung. Ini mesin pembunuh yang dibiarkan hidup!” ucap seorang warga dengan nada dingin, tanpa emosi, karena mungkin sudah terlalu lelah untuk marah.
Dugaan Busuk, Ketika Tambang Berubah Jadi ‘ATM Kotor’, Di balik debu dan deru mesin, muncul bau yang lebih menyengat: dugaan praktik kotor yang melibatkan kepentingan tersembunyi.
Dugaan bahwa, Jalan umum dipakai seenaknya, seolah milik pribadi, Tidak pernah ada sosialisasi, warga dipaksa menerima tanpa suara, AMDAL yang seharusnya jadi benteng lingkungan, justru menjadi dokumen misterius Dan yang paling mencolok: indikasi bahwa tambang ini dijadikan “ATM berjalan” oleh oknum tertentu.
Jika ini benar, maka yang terjadi di Tanjung Rejo bukan sekadar konflik—ini adalah potret telanjang dari sistem yang busuk. Pertanyaannya sederhana, tapi menampar, Siapa yang sebenarnya dilindungi?, Rakyat atau kepentingan?
Ultimatum yang Terasa Kosong dan Tak Bertaji, Pihak legislatif akhirnya mengeluarkan ultimatum: dua minggu untuk menyelesaikan persoalan. Namun bagi warga, itu terdengar seperti lelucon yang sudah terlalu sering diulang.
“Dua minggu? Untuk apa? Supaya kami lupa lagi?” sindir Mas Haifur tajam.
Kepercayaan sudah habis.Yang tersisa hanya kemarahan dan kecurigaan. Ketika Negara Gagal Hadir, Warga Siap Melawan. Merasa diabaikan di tanah sendiri, warga kini bersiap membawa persoalan ini ke tingkat nasional. Mereka akan melayangkan pengaduan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto dan Mabes Polri.
Ini bukan lagi sekadar mencari solusi. Ini adalah bentuk perlawanan. Karena bagi warga, diam berarti mati perlahan. Bom Waktu yang Tinggal Menunggu Ledakan
Tanjung Rejo hari ini bukan sekadar desa. Ia adalah titik didih. Setiap truk yang melintas, setiap debu yang beterbangan, setiap korban yang jatuh, semuanya adalah bahan bakar.
Dan ketika batas itu benar-benar terlampaui, yang terjadi bukan lagi protes, melainkan ledakan kemarahan yang tak bisa dikendalikan. Jika itu terjadi, jangan tanya siapa yang salah. Karena semua sudah melihat tanda-tandanya dan memilih untuk diam.
