LAPANGAN HIJAU JADI TITIK TEMU: TUJUH KORWIL PEMASYARAKATAN JATIM BERTARUNG, SPORTIVITAS MENYALA, SOLIDITAS DIKUATKAN

SURABAYA, – TOP BERITA NUSANTARA BRILiaN Stadium Surabaya, Jumat (7/8/2026), berubah menjadi ruang pertemuan besar insan Pemasyarakatan Jawa Timur. Tujuh Koordinator Wilayah (Korwil) UPT Pemasyarakatan hadir membawa semangat kompetisi dalam pertandingan mini soccer, tetapi pesan yang dibawa jauh lebih besar daripada sekadar mengejar gol dan kemenangan.
Di tengah kerasnya persaingan, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Jawa Timur menempatkan olahraga sebagai sarana mempererat silaturahmi, membangun komunikasi, menjaga kebugaran, dan memperkuat soliditas antarsatuan kerja.
Rangkaian kegiatan diawali apel pembukaan yang dipimpin langsung Kepala Kanwil Ditjenpas Jawa Timur, Kusnali, serta dihadiri para Kepala UPT Pemasyarakatan se-Jawa Timur.
Dalam arahannya, Kusnali menegaskan bahwa olahraga tidak boleh hanya dilihat dari hasil akhir pertandingan. Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki nilai kebersamaan yang dapat memperkuat hubungan antarpersonel sekaligus membangun kekompakan dalam menjalankan tugas Pemasyarakatan.
“Olahraga bukan hanya tentang menang dan kalah. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana mempererat silaturahmi, membangun kekompakan, sekaligus menjaga semangat kebersamaan seluruh insan Pemasyarakatan Jawa Timur,” ujar Kusnali.
Tendangan simbolis Kusnali ke arah gawang menjadi tanda kompetisi dimulai. Tujuh Korwil kemudian memasuki lapangan dengan membawa kekuatan terbaik masing-masing. Semangat untuk memenangkan pertandingan terlihat sejak laga pertama bergulir.
Adu kecepatan, strategi, akurasi, komunikasi, dan kerja sama menjadi warna sepanjang pertandingan. Setiap tim berusaha menguasai permainan, tetapi tetap dituntut menjaga sportivitas dan menghormati lawan.
Yang membuat kegiatan semakin bermakna, jajaran Kanwil Ditjenpas Jawa Timur tidak hanya hadir sebagai penonton. Para pegawai juga ikut turun ke lapangan dan merasakan langsung atmosfer pertandingan.
Kehadiran mereka menjadi momentum untuk keluar sejenak dari rutinitas pekerjaan, menjaga kebugaran, sekaligus membangun komunikasi yang lebih dekat dengan rekan-rekan dari berbagai UPT Pemasyarakatan.
“Bagi kami, kegiatan ini sangat positif. Selain bisa berolahraga dan menjaga kesehatan, kami dapat bertemu serta berinteraksi dengan rekan-rekan dari UPT lain. Persaingan di lapangan justru membuat kami semakin kompak di luar lapangan,” ungkap salah satu peserta.
Pertandingan berlangsung sejak pagi hingga sore. Masing-masing tim menunjukkan semangat kompetitif melalui koordinasi permainan, kedisiplinan, kreativitas membangun serangan, serta kekuatan bertahan.
Namun, ada pesan yang lebih penting dari sekadar skor pertandingan.
Kompetisi boleh keras, tetapi persaudaraan tidak boleh runtuh.
Mini soccer secara tidak langsung mengajarkan pentingnya kepercayaan dan kerja sama. Tidak ada tim yang mampu meraih kemenangan jika para pemain bergerak sendiri-sendiri. Setiap individu harus memahami peran, saling memberikan dukungan, berkomunikasi, serta mampu mengendalikan emosi ketika menghadapi tekanan.
Prinsip tersebut juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan tugas Pemasyarakatan yang membutuhkan koordinasi dan sinergi lintas satuan kerja.
Perjalanan kompetisi akhirnya mengerucut pada laga puncak yang mempertemukan Korwil Jember dan Korwil Malang. Kedua tim tampil penuh determinasi. Serangan agresif berhadapan dengan pertahanan yang disiplin, menjadikan partai final sebagai salah satu bagian paling menegangkan dalam rangkaian pertandingan.
Final tersebut bukan hanya menjadi penutup kompetisi, tetapi juga menjadi gambaran bagaimana olahraga dapat menjadi sarana membangun karakter, memperkuat komunikasi, dan menumbuhkan rasa kebersamaan.
Bagi jajaran Pemasyarakatan Jawa Timur, soliditas merupakan kekuatan yang harus terus dirawat. Tugas yang kompleks membutuhkan koordinasi yang kuat, komunikasi yang terbuka, dan kemampuan bekerja bersama tanpa melihat perbedaan wilayah maupun satuan kerja.
Karena itu, semangat yang tumbuh di lapangan hijau diharapkan tidak berakhir ketika pertandingan selesai. Nilai sportivitas, kedisiplinan, kerja sama, dan persaudaraan harus kembali dibawa ke lingkungan kerja sebagai energi positif dalam menjalankan tugas.
BRILiaN Stadium Surabaya akhirnya menjadi lebih dari sekadar lokasi pertandingan. Lapangan itu menjadi titik temu tujuh Korwil untuk memperkuat satu hal yang tidak tercatat dalam papan skor: soliditas.
Ketika peluit akhir berbunyi, persaingan berhenti. Namun hubungan persaudaraan harus terus berjalan.
Sebab dalam pengabdian Pemasyarakatan, kemenangan terbesar bukan sekadar mengangkat trofi, melainkan mampu bergerak bersama, saling menguatkan, dan berdiri dalam satu barisan untuk memberikan pengabdian terbaik kepada masyarakat (Har).
