400 Bibit Itik Jadi Langkah Baru Lapas Mojokerto Cetak Warga Binaan Terampil dan Mandiri

MOJOKERTO –TOP BERITA NUSANTARA Bukan sekadar menjalani masa pembinaan, warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Mojokerto terus diarahkan untuk memiliki keterampilan yang dapat menjadi bekal ketika kembali ke tengah masyarakat. Salah satunya diwujudkan melalui penguatan program pembinaan kemandirian di bidang peternakan dengan kembali menambah sebanyak 400 ekor bibit itik.

Penambahan ratusan bibit itik tersebut dilakukan pada Selasa (1/9/2026) dan menjadi bagian dari upaya Lapas Mojokerto mengembangkan kegiatan budidaya ternak sekaligus memberikan pengalaman kerja nyata kepada warga binaan.

Proses penempatan 400 ekor bibit itik dilakukan bersama oleh petugas, warga binaan, serta peserta magang yang terlibat dalam program pembinaan. Kasi Bimbingan Narapidana/Anak Didik dan Kegiatan Kerja (Bimnadik & Giatja) Lapas Mojokerto, Anggi Fauzi, turut turun langsung memastikan proses penanganan dan pemindahan bibit menuju kandang inkubator berjalan dengan baik.

Menurut Anggi Fauzi, penambahan bibit itik tersebut merupakan bagian dari komitmen Lapas Mojokerto untuk terus memperkuat pembinaan kemandirian melalui kegiatan produktif.

“Penambahan bibit itik ini merupakan bagian dari upaya kami untuk terus mengembangkan kegiatan pembinaan kemandirian. Warga binaan tidak hanya mendapatkan pengalaman dalam merawat ternak, tetapi juga belajar bagaimana mengelola kegiatan peternakan secara bertahap dan bertanggung jawab,” ujar Anggi Fauzi.

18 Hari Pertama Menjadi Tahap Penting

Usai ditempatkan, 400 bibit itik tersebut akan menjalani masa perawatan awal di kandang inkubator selama kurang lebih 18 hari. Tahap ini menjadi periode penting untuk memastikan bibit dapat tumbuh dan berkembang dalam kondisi yang terpantau.

Selama berada di kandang inkubator, pemeliharaan dilakukan secara rutin dengan memperhatikan sejumlah aspek penting, mulai dari pemberian pakan, kondisi lingkungan, kebersihan kandang hingga perkembangan kesehatan dan pertumbuhan masing-masing bibit.

Baca Juga :  Rutan Kelas I Surabaya Sampaikan Belasungkawa atas Wafatnya Petugas Pengamanan Dani Kurnianto Pratama

Kegiatan tersebut sekaligus memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk belajar menjalankan proses peternakan secara langsung. Mereka dituntut memahami bahwa keberhasilan budidaya tidak hanya bergantung pada jumlah ternak, tetapi juga membutuhkan kedisiplinan, ketelitian, kebersihan, serta tanggung jawab dalam setiap tahapan pemeliharaan.

Setelah melewati masa pemeliharaan awal sekitar 18 hari dan dinilai telah siap, bibit itik selanjutnya akan dipindahkan menuju kandang pembesaran. Di lokasi tersebut, proses pemeliharaan akan dilanjutkan hingga memasuki tahap berikutnya dalam siklus budidaya.

Dari Balik Lapas, Keterampilan Disiapkan untuk Masa Depan

Program budidaya itik ini menjadi bagian dari pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada aktivitas selama warga binaan berada di dalam Lapas. Lebih jauh, kegiatan tersebut diarahkan untuk membangun kemampuan praktis yang dapat dimanfaatkan sebagai modal ketika mereka kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat.

Melalui keterlibatan secara langsung, warga binaan memperoleh pengalaman dalam merawat hewan ternak sekaligus belajar memahami pola kerja yang membutuhkan ketekunan dan konsistensi.

Sementara itu, keterlibatan peserta magang dalam kegiatan tersebut turut memberikan pengalaman praktik di lapangan. Sinergi antara petugas, warga binaan dan peserta magang diharapkan dapat membuat kegiatan pembinaan berjalan semakin produktif dan terarah.

Penambahan 400 bibit itik pada akhirnya bukan hanya berbicara mengenai bertambahnya jumlah ternak di lingkungan Lapas Mojokerto. Di balik aktivitas tersebut terdapat tujuan yang lebih besar, yakni membangun keterampilan, menanamkan rasa tanggung jawab, serta membuka peluang bagi warga binaan untuk memiliki kemampuan produktif.

Dengan pengembangan budidaya itik yang dilakukan secara bertahap dan terukur, Lapas Kelas IIB Mojokerto terus mendorong agar program pembinaan kemandirian mampu menghasilkan manfaat nyata.

Sebab, keberhasilan pembinaan tidak hanya ditandai dengan berakhirnya masa pidana, tetapi juga ketika warga binaan memiliki keterampilan dan kesiapan untuk menata kehidupan secara lebih mandiri setelah kembali ke tengah masyarakat (Har).

Leave a Reply