Atlet Berprestasi Tersingkir Dari Smanor Jatim, Seleksi Dianggap Abaikan Prestasi Nasional Anggar Sidoarjo Picu Kritik Sistem Pembinaan

SIDOARJO, 10 Juni 2026 – TOP BERITA NUSANTARA Polemik dalam dunia pendidikan olahraga di Jawa Timur kembali mencuat setelah atlet anggar nasional asal Kabupaten Sidoarjo, Zhafirah Alesha, dinyatakan tidak lolos seleksi masuk Sekolah Menengah Atas Negeri Olahraga (SMANOR) Jawa Timur, meski memiliki deretan prestasi di tingkat daerah, nasional, hingga internasional.
Zhafirah selama ini dikenal sebagai salah satu atlet muda potensial di cabang olahraga anggar. Pada 2025, ia sukses meraih medali emas dalam Kejuaraan Nasional Anggar di Bitung, Manado. Selain itu, berbagai prestasi lain juga telah ia torehkan dalam sejumlah kejuaraan resmi, menjadikannya salah satu atlet yang diproyeksikan berkontribusi bagi masa depan olahraga anggar Indonesia.
Namun, prestasi tersebut tidak cukup untuk mengantarkannya masuk ke SMANOR Jawa Timur. Hasil seleksi menyatakan Zhafirah tidak diterima, yang kemudian memicu kekecewaan keluarga sekaligus memunculkan perdebatan di kalangan pemerhati olahraga mengenai arah pembinaan atlet muda di Indonesia.
Pada Rabu (10/6/2026), Oktavianti, orang tua Zhafirah yang juga Ketua Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (IKASI) Kabupaten Sidoarjo, mendatangi pihak sekolah untuk meminta klarifikasi langsung terkait hasil seleksi tersebut.
Ia menyampaikan bahwa pihak sekolah menjelaskan proses seleksi dilakukan melalui akumulasi beberapa aspek penilaian, yakni kemampuan cabang olahraga, tes fisik, psikotes, dan nilai akademik.
“Saya datang untuk meminta penjelasan. Anak saya atlet Kejurnas, peraih medali emas, dan sudah membawa nama daerah di berbagai kejuaraan. Tapi ternyata itu belum cukup untuk diterima. Saya ingin tahu apa yang menjadi kekurangan anak saya,” ujarnya.
Oktavianti mengaku keputusan tersebut memberikan dampak psikologis bagi putrinya. Harapan yang selama ini dibangun untuk menempuh pendidikan di sekolah olahraga unggulan itu disebut runtuh setelah hasil seleksi diumumkan.
“Anak saya sangat terpukul. Dia merasa perjuangannya tidak dihargai. Bahkan sempat mengatakan ingin berhenti sementara dari dunia anggar karena kecewa,” ungkapnya.
Lebih jauh, ia menilai kasus ini menunjukkan adanya persoalan dalam sistem pembinaan atlet muda yang perlu dievaluasi secara menyeluruh.
“Kalau ini sekolah olahraga, seharusnya prestasi atlet menjadi prioritas utama. Jangan sampai atlet berprestasi justru tersingkir oleh faktor lain yang bobotnya lebih besar,” tegasnya.
SMANOR Tegaskan Seleksi Berbasis Objektivitas dan Sistem Penilaian
Menanggapi polemik tersebut, Elvizar, ASN Kementerian Pemuda dan Olahraga yang juga pelatih anggar di SMANOR Jawa Timur, menegaskan bahwa seluruh proses seleksi dilakukan secara objektif, transparan, dan berdasarkan sistem penilaian yang telah ditetapkan.
Ia menjelaskan bahwa kemampuan olahraga hanya menjadi salah satu komponen dari keseluruhan penilaian.
“Penilaian tidak hanya dari cabang olahraga. Ada tes fisik, psikotes, dan akademik. Semua digabung menjadi nilai akhir untuk menentukan peringkat,” jelasnya.
Elvizar juga menegaskan bahwa tidak ada intervensi dalam proses seleksi tersebut.
“Kami tidak melihat latar belakang atlet atau organisasi mana pun. Semua murni berdasarkan hasil tes dan peringkat,” tegasnya.
Meski demikian, ia menyebut adanya kemungkinan teknis seperti penambahan kuota jika terdapat peserta yang mengundurkan diri, namun keputusan tersebut berada di luar kewenangan pelatih.
“Itu ranah kepala sekolah dan Dinas Pendidikan,” tambahnya.
Polemik Nasional: Di Mana Posisi Prestasi Atlet?
Kasus ini kembali membuka diskusi luas mengenai posisi prestasi olahraga dalam sistem pendidikan khusus atlet di Indonesia. Di satu sisi, sekolah olahraga diharapkan menjadi ruang pembinaan bagi atlet berprestasi yang telah mengharumkan nama daerah dan bangsa. Namun di sisi lain, standar akademik dan kesiapan psikologis tetap menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan formal.
Perbedaan pandangan ini memunculkan pertanyaan besar mengenai arah kebijakan pembinaan atlet muda: apakah sistem yang ada saat ini sudah cukup adil dalam menempatkan prestasi olahraga sebagai indikator utama, atau justru masih terlalu menitikberatkan aspek non-olahraga?
Bagi keluarga Zhafirah, harapan masih terbuka agar ada evaluasi dan kebijakan yang memungkinkan putrinya tetap melanjutkan pendidikan sekaligus karier sebagai atlet anggar.
Namun bagi publik olahraga, kasus ini menjadi alarm penting bahwa sistem seleksi dan pembinaan atlet muda perlu terus diperbaiki agar tidak mematahkan semangat generasi yang telah berjuang mengharumkan nama Indonesia di arena kompetisi.
Sebab dalam dunia olahraga, perjuangan seorang atlet tidak hanya terjadi di arena pertandingan, tetapi juga dalam perjalanan panjang untuk mendapatkan pengakuan, kesempatan, dan masa depan yang selaras dengan prestasi yang telah mereka raih (Red).
