“Alarm Pendidikan Jawa Timur 2026: Rasiyo Ingatkan Orang Tua Jangan Salah Strategi, Jalur Domisili Jadi Penentu Utama PPDB”

SURABAYA – TOP BERITA NUSANTARA Persaingan masuk SMA dan SMK Negeri di Jawa Timur tahun 2026 diprediksi menjadi salah satu yang paling ketat dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut mengemuka dalam kegiatan Sosialisasi Optimalisasi Sistem Pendidikan untuk Mengenal Lebih Dekat dengan PPDB/SPMB SMA Negeri Tahun 2026 yang digelar di Favehotel MEX Tunjungan, Sabtu (16/5/2026).
Forum yang dihadiri ratusan orang tua siswa, tokoh masyarakat, insan pendidikan, hingga berbagai stakeholder pendidikan itu menghadirkan Drs. H. Rasiyo bersama Agus Hariono sebagai narasumber utama. Sosialisasi tersebut menjadi perhatian serius masyarakat karena membahas arah baru sistem penerimaan murid baru yang diperkirakan akan menentukan masa depan ratusan ribu pelajar di Jawa Timur.
Dalam pemaparannya, Rasiyo menegaskan bahwa masyarakat tidak lagi bisa memahami sistem PPDB hanya dari sisi zonasi atau domisili semata. Menurutnya, pola penerimaan siswa tahun 2026 jauh lebih kompleks karena melibatkan banyak jalur seleksi yang harus dipahami secara detail oleh orang tua maupun calon siswa.
“Sekarang masyarakat harus memahami seluruh jalur penerimaan mulai dari domisili, afirmasi, mutasi, prestasi akademik dan non-akademik, hingga kemungkinan Tes Kompetensi Akademik atau TKA. Kalau tidak dipahami sejak awal, siswa bisa salah menentukan strategi,” tegasnya di hadapan peserta.
Ia menjelaskan bahwa jalur domisili kini menjadi titik paling krusial karena ditempatkan pada tahap awal seleksi penerimaan siswa baru. Kebijakan tersebut dinilai menjadi langkah pemerintah untuk memberi prioritas kepada siswa yang tinggal di sekitar sekolah agar memperoleh peluang lebih besar masuk sekolah negeri terdekat.
Namun demikian, Rasiyo mengingatkan masyarakat agar tidak hanya bergantung pada satu jalur penerimaan. Orang tua diminta aktif mempelajari kuota dan mekanisme resmi agar dapat menentukan langkah terbaik bagi putra-putrinya.
“Jangan sampai hanya berharap satu jalur. Orang tua harus memahami semua peluang yang tersedia supaya anak tidak kehilangan kesempatan,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Rasiyo juga menyoroti masih kuatnya stigma sekolah favorit di tengah masyarakat. Ia menilai pola pikir tersebut perlahan harus diubah karena kualitas pendidikan saat ini semakin merata, baik di sekolah negeri maupun swasta.
Menurutnya, keberhasilan seseorang tidak ditentukan oleh label sekolah, melainkan oleh kedisiplinan, kerja keras, karakter, serta dukungan keluarga terhadap proses belajar anak.
“Bukan berarti sekolah negeri pasti berhasil. Banyak juga yang biasa-biasa saja. Yang menentukan masa depan adalah semangat anak, kerja keras, dan doa orang tua,” katanya.
Untuk memotivasi peserta, Rasiyo turut membagikan perjalanan hidupnya yang berasal dari sekolah STM swasta di Lamongan sebelum melanjutkan pendidikan di IKIP Surabaya yang kini dikenal sebagai Universitas Negeri Surabaya. Berkat ketekunan dan kerja keras, ia mampu meniti karier mulai dari guru, kepala sekolah, hingga menduduki berbagai jabatan penting di pemerintahan.
Kisah tersebut disampaikan sebagai bukti bahwa sekolah swasta juga mampu mencetak sumber daya manusia berkualitas apabila dijalani dengan sungguh-sungguh.
“Yang paling penting anak jangan sampai putus sekolah. Kalau belum diterima di negeri, sekolah swasta juga banyak yang bagus dan sekarang mendapat dukungan bantuan pemerintah,” jelasnya.
Selain membahas sistem penerimaan siswa baru, Rasiyo juga membuka ruang aspirasi masyarakat terkait kebutuhan pendidikan dan fasilitas umum. Ia menyebut proses penyusunan anggaran pemerintah daerah tahun 2027 mulai dilakukan sehingga masyarakat diminta segera menyampaikan berbagai kebutuhan prioritas seperti bantuan pendidikan, pembangunan ruang kelas, hingga fasilitas ibadah.
“Kalau ada kebutuhan masyarakat seperti perbaikan sekolah, tambahan ruang belajar, bantuan pendidikan, atau fasilitas ibadah, silakan disampaikan. Nanti akan diperjuangkan sesuai aturan dan kemampuan anggaran,” terangnya.
Sementara itu, Agus Hariono dari Tim SPMB Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur memaparkan data yang cukup mengejutkan terkait daya tampung sekolah negeri di Jawa Timur tahun 2026. Menurutnya, jumlah lulusan SMP sederajat diperkirakan mencapai sekitar 618 ribu siswa.
Namun, kapasitas SMA Negeri hanya sekitar 121 ribu siswa atau sekitar 19 persen, sedangkan SMK Negeri sekitar 123 ribu siswa atau hampir 20 persen. Dengan kondisi tersebut, total daya tampung sekolah negeri masih belum mampu menampung lebih dari separuh lulusan SMP sederajat di Jawa Timur.
“Artinya masih ada sekitar 60 persen lulusan yang tidak tertampung di sekolah negeri. Karena itu sekolah swasta memiliki peran yang sangat penting dalam sistem pendidikan kita,” ungkap Agus.
Ia juga menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur saat ini tengah menyiapkan skema bantuan pendidikan bagi calon siswa dari keluarga kurang mampu yang tidak diterima di sekolah negeri. Program tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan sekolah swasta yang menyediakan bantuan biaya pendidikan atau beasiswa.
Menurut Agus, program itu diprioritaskan bagi keluarga kategori desil 1 hingga desil 5 agar seluruh anak tetap memperoleh hak pendidikan secara layak tanpa terkendala faktor ekonomi.
Selain itu, Agus kembali menegaskan bahwa jalur domisili menjadi prioritas utama pada tahap awal penerimaan siswa baru tahun 2026. Karena itu, masyarakat diminta benar-benar memanfaatkan peluang tersebut secara maksimal.
“Jangan sampai jalur domisili disia-siakan. Sekarang justru itu kesempatan terbesar bagi warga sekitar sekolah untuk diterima,” tegasnya.
Ia juga menilai sistem zonasi dan domisili perlahan mulai menghapus stigma sekolah favorit karena kualitas sekolah negeri di berbagai wilayah Jawa Timur kini semakin merata.
“Sekolah pinggiran sekarang juga banyak yang siswanya diterima di perguruan tinggi negeri lewat jalur prestasi maupun nilai rapor. Jadi masyarakat jangan lagi terpaku pada label sekolah favorit,” pungkasnya.
Melalui kegiatan sosialisasi tersebut, masyarakat diharapkan semakin memahami arah baru sistem SPMB atau PPDB Tahun 2026 di Jawa Timur. Pemerintah berharap seluruh orang tua dapat lebih bijak menentukan pilihan pendidikan anak, sekaligus menyadari bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh status sekolah, tetapi juga oleh kualitas proses belajar dan dukungan lingkungan keluarga (Har).
