Panen Raya 3 Ton Semangka di Banyuwangi Inspirasi Rutan Gresik Tingkatkan Program Kemandirian Warga Binaan

Banyuwangi —Top Berita Nusantara Kamis (15/1/2026)  Kepala Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Gresik, Eko Widiatmoko, turut bergabung dalam rangkaian kegiatan Panen Raya Serentak Ketahanan Pangan Pemasyarakatan yang berpusat di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Banyuwangi, sebagai bagian dari upaya bersama jajaran Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur dalam mendukung program nasional ketahanan pangan. Acara yang penuh semangat produktif ini dipimpin langsung oleh Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kadiyono, dengan kehadiran kehormatan dari Wakil Bupati Banyuwangi, seluruh jajaran Forkopimda Banyuwangi, serta para Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan se-Jawa Timur yang berkumpul untuk menyaksikan dan merayakan hasil kerja keras yang telah dilakukan dalam mengelola lahan produktif untuk kemaslahatan bersama dan pembangunan berkelanjutan.

Kegiatan yang diselenggarakan secara serentak di seluruh wilayah Indonesia ini dimulai dengan sesi Zoom Panen Raya Serentak Ketahanan Pangan Pemasyarakatan yang dipimpin langsung oleh Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan dari Lapas Kelas I Cirebon. Acara virtual yang menghubungkan ribuan peserta dari berbagai penjuru tanah air ini menjadi wadah penting untuk menyatukan langkah dan visi seluruh jajaran pemasyarakatan, menjadikan panen raya serentak ini sebagai simbol nyata dari komitmen nasional dalam mendukung ketahanan pangan secara terintegrasi dan berkelanjutan. Melalui sesi interaktif ini, Menteri juga menyampaikan arahan strategis terkait peran krusial lembaga pemasyarakatan dalam memperkuat ketahanan pangan nasional serta membangun sistem pembinaan yang lebih produktif, inklusif, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.

Setelah sesi virtual yang penuh makna selesai, Ketua Pelaksana acara sekaligus Kepala Lapas Kelas IIA Banyuwangi, I Wayan Nurasta Wibawa, menyampaikan laporan rinci dan komprehensif tentang perjalanan pengelolaan lahan yang telah dilakukan sejak awal pendirian fasilitas tersebut. Dalam paparannya yang rinci, dia menjelaskan bahwa Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Paswangi merupakan fasilitas pembinaan terpadu yang terletak di atas lahan seluas 21.559 meter persegi – sebuah hibah berharga dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang telah diserahterimakan secara resmi pada tanggal 3 Maret 2020. Sejak saat itu, lahan tersebut telah dikelola dengan penuh dedikasi dan profesionalisme oleh kombinasi tim pembina ahli dan warga binaan, dengan tujuan untuk memberikan manfaat ganda yang meliputi penyediaan sumber pangan berkualitas serta sebagai sarana pembelajaran keterampilan hidup yang berharga bagi warga binaan.

Baca Juga :  Rutan Gresik Perkuat Integritas Pengadaan BAMA 2026, Siap Wujudkan Layanan Pemasyarakatan yang Bersih dan Berdaya Saing

Menurut laporan yang disampaikan secara terperinci, SAE Paswangi dikelola dengan menerapkan konsep pertanian terpadu yang sangat komprehensif, mencakup berbagai sektor produktif mulai dari tanaman pangan pokok seperti jagung, kedelai, dan beras lokal, hortikultura dengan beragam jenis komoditas sayuran dan buah-buahan, sektor peternakan dengan memelihara hewan ternak lokal seperti ayam kampung, kambing, dan sapi potong, hingga sektor perikanan dengan budidaya ikan air tawar seperti nila, lele, dan gurame di kolam yang telah dirancang secara optimal. Pada kesempatan panen raya serentak ini, dilakukan panen khusus pada areal tanam semangka non-biji yang seluas 2.500 meter persegi, yang menghasilkan hasil panen melimpah mencapai sekitar 3 ton buah berkualitas tinggi dengan rasa yang khas dan bernilai gizi tinggi. Selain kegiatan panen, juga dilakukan upacara penanaman simbolis kacang panjang sebagai bagian dari komitmen terhadap keberlanjutan pengelolaan lahan, yang menunjukkan bahwa program ini dirancang untuk berjalan terus-menerus dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Pemanfaatan lahan hibah dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi tersebut terus dioptimalkan secara maksimal oleh pihak Lapas Kelas IIA Banyuwangi, tidak hanya dengan tujuan utama untuk mendukung program pembinaan warga binaan dan meningkatkan ketahanan pangan di lingkungan pemasyarakatan. Lebih dari itu, lahan produktif ini juga dijadikan sebagai langkah strategis untuk membuka peluang pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui kerja sama yang erat dengan pelaku usaha lokal di Kabupaten Banyuwangi. Kerja sama ini mencakup pemasaran produk hasil panen, pembinaan keterampilan usaha bagi warga binaan yang akan keluar nanti, serta pengembangan produk olahan yang bernilai tambah tinggi. Hal ini diharapkan tidak hanya mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal di Kabupaten Banyuwangi, tetapi juga menciptakan hubungan sinergis yang saling menguntungkan serta mempererat tali silaturahmi antara lembaga pemasyarakatan dengan masyarakat sekitarnya.

Baca Juga :  Razia Mendadak di Rutan Gresik: Petugas Tegakkan Disiplin dan Keamanan Warga Binaan

Pada kesempatan yang sama, dilakukan acara peresmian resmi yang penuh makna terhadap dua fasilitas penting yang akan menjadi tonggak kemajuan sistem pemasyarakatan di Jawa Timur, yaitu fasilitas SAE Paswangi yang kini beroperasi secara penuh serta fasilitas Dapur Sehat yang telah dibangun dengan standar kesehatan dan higienitas yang tinggi. Dapur Sehat ini dirancang secara khusus untuk berfungsi sebagai sarana pelayanan kesehatan terintegrasi dan pemenuhan gizi yang optimal bagi seluruh warga binaan Lapas Kelas IIA Banyuwangi, dengan tujuan utama untuk memastikan bahwa setiap makanan yang disajikan tidak hanya lezat, tetapi juga memenuhi standar kesehatan yang ketat, higienitas yang optimal, serta mengandung komposisi gizi yang seimbang sesuai dengan kebutuhan tubuh setiap individu. Fasilitas ini juga dilengkapi dengan sistem manajemen mutu yang modern dan terkomputerisasi, menjadikannya contoh terbaik dalam pengelolaan makanan dan gizi di lingkungan pemasyarakatan se-Indonesia.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur, Kadiyono, dalam pidatonya yang penuh semangat menegaskan bahwa pengelolaan fasilitas SAE Paswangi dan Dapur Sehat merupakan bagian krusial dari upaya besar-besaran dalam penguatan pembinaan berbasis produktivitas yang sedang digalakkan oleh Direktorat Jenderal Pemasyarakatan. Menurutnya, program inovatif ini menjadi wujud nyata dari konsep pemasyarakatan yang semakin berkembang dan berorientasi pada masa depan, di mana lembaga pemasyarakatan tidak hanya berfokus pada pembinaan hukum dan pendidikan moral semata. Lebih dari itu, program ini bertujuan untuk membina warga binaan agar tumbuh menjadi individu yang sehat secara fisik dan stabil secara mental, memiliki keterampilan praktis yang berguna untuk kehidupan, serta mampu hidup mandiri dan produktif setelah menyelesaikan masa pidana. “Kita memiliki visi bahwa setiap warga binaan yang keluar dari pemasyarakatan tidak hanya siap untuk berintegrasi kembali dengan masyarakat, tetapi juga memiliki kapasitas untuk memberikan kontribusi positif yang nyata bagi kemajuan keluarga, masyarakat, dan bangsa Indonesia secara keseluruhan,” tegas Kadiyono dengan penuh keyakinan.

Baca Juga :  Hasil Tes Urine Semua Negatif, Rutan Gresik Tunjukkan Komitmen Kuat Capai Zero HALINAR

Sementara itu, Kepala Rutan Gresik, Eko Widiatmoko, yang turut menyaksikan langsung proses panen yang meriah dan acara peresmian fasilitas tersebut, menyatakan bahwa kegiatan Panen Raya Serentak yang berlangsung di Banyuwangi ini telah memberikan inspirasi besar bagi pihaknya dalam mengembangkan program pembinaan di Rutan Gresik. Menurutnya, acara ini menunjukkan kontribusi nyata dan signifikan dari dunia pemasyarakatan dalam mendukung program nasional ketahanan pangan, serta membuktikan bahwa ruang pemasyarakatan mampu menjadi lokasi yang produktif dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat. Eko Widiatmoko juga menegaskan komitmen penuh dari pihak Rutan Gresik untuk terus mengembangkan program pembinaan kemandirian yang selaras dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia serta sejalan dengan arahan 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Tahun 2026. “Kami di Rutan Gresik akan mengambil pelajaran berharga dari keberhasilan program yang telah dicapai oleh Lapas Banyuwangi, dan segera mengembangkan konsep serupa yang disesuaikan dengan kondisi geografis dan potensi lokal di Kabupaten Gresik. Tujuannya adalah untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi warga binaan serta mendukung perkembangan ekonomi dan ketahanan pangan di daerah kita,” jelas Eko Widiatmoko dengan semangat yang membara dan keyakinan yang kuat terhadap masa depan program pembinaan di Rutan Gresik.(Har)

Leave a Reply