Pasar Wisata Pacet “MATI SURI” PAD Kabupaten Mojokerto Terancam Bocor

Foto : Pasar Wisata Pacet yang Kondisinya memprihatinkan
PACET, MOJOKERTO – TBN | Kondisi pasar rakyat di Kecamatan Pacet kian memprihatinkan. Ibarat pepatah “hidup segan mati tak mau,” aktivitas perdagangan di pasar ini terpantau lesu dan sepi pengunjung. Dampaknya, puluhan stand milik pedagang dibiarkan tutup, yang berujung pada terhambatnya capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor retribusi pasar.
*Stand Kosong dan Sepi Pengunjung*
Berdasarkan pantauan RAKSI ( Rakyat Kontrol Sosial ) di lokasi, kamis (26-02-2026) lorong-lorong pasar yang seharusnya menjadi pusat ekonomi warga tampak lengang. Hanya segelintir stand yang masih bertahan membuka dagangannya. Banyaknya lapak yang terkunci rapat membuat suasana pasar tampak kumuh dan tidak terawat. Hal ini menciptakan lingkaran setan: sepinya pembeli membuat pedagang malas berjualan, dan jarangnya pedagang yang buka membuat pembeli beralih ke tempat lain.

*Manajemen Kepala Pasar Disorot*
Kelesuan ini memicu kritik tajam terhadap profesionalisme pengelolaan pasar. Para pedagang mengeluhkan minimnya terobosan dari pihak pengelola untuk meramaikan kembali pasar tersebut. Sosok kepala pasar dinilai kurang inovatif dan proaktif dalam melakukan penataan maupun promosi guna menarik minat pengunjung.
“Kami butuh inovasi, bukan sekadar penarikan retribusi tanpa ada perbaikan fasilitas atau upaya meramaikan pasar,” ujar salah satu pedagang yang enggan disebutkan namanya.
Kabar mengenai jarangnya kehadiran Kepala Pasar di kantor operasional menjadi keluhan utama juga para pedagang. Sebagai seorang ASN yang seharusnya menjalankan fungsi pelayanan publik, perilaku “jarang ngantor” ini dinilai menghambat koordinasi dan penanganan masalah di lapangan.
“Kami sering kesulitan kalau mau urus administrasi atau mengadu soal fasilitas pasar. Orangnya jarang terlihat di kantor,” ungkap seorang pedagang yang meminta identitasnya dirahasiakan karena alasan keamanan.

*Retribusi Terhambat, PAD Terancam*
Kondisi ini berimbas langsung pada sektor keuangan daerah. Dengan banyaknya stand yang tutup, penarikan retribusi pelayanan pasar menjadi tidak optimal. Hal ini menambah daftar panjang tantangan bagi Pemerintah Kabupaten Mojokerto dalam memenuhi target PAD tahunan. Jika pengelolaan tidak segera dievaluasi, potensi kebocoran pendapatan daerah di sektor pasar rakyat ini diprediksi akan terus membengkak.
*Desakan Evaluasi dari DPRD*
Kondisi pasar yang “mati suri” ini selaras dengan dorongan dari DPRD Kabupaten Mojokerto yang sebelumnya telah meminta evaluasi total terhadap pengelolaan pasar rakyat yang tidak produktif. Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Mojokerto segera turun tangan melakukan perombakan manajemen dan revitalisasi fungsi pasar agar kembali menjadi urat nadi ekonomi di Kecamatan Pacet. (Tim) Bersambung
