Panen Lele Rutan Kelas I Surabaya: Wujud Pembinaan Produktif dan Kepedulian Sosial dalam Pemasyarakatan

Sidoarjo –Top Berita Nusantara Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Surabaya sukses melaksanakan kegiatan panen lele pada hari Rabu, 15 Januari 2025, sebagai bagian dari agenda besar Panen Raya Pemasyarakatan 2025 yang digelar secara serentak di seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) pemasyarakatan se-Indonesia. Kegiatan nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) melalui Direktorat Jenderal Pemasyarakatan ini memiliki titik pusat pelaksanaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cirebon, dengan kehadiran langsung Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Jenderal Polisi (Purn) Drs. Agus Andrianto.
Di lingkungan Rutan Kelas I Surabaya, proses panen dilaksanakan secara langsung oleh Pelaksana Harian (Plh.) Kepala Rutan Kelas I Surabaya, Hengki Giantoro, di kawasan budidaya perikanan yang telah disiapkan khusus di dalam kompleks rutan. Panen yang dilakukan pada kesempatan ini berhasil menghasilkan total sebanyak 80 kilogram ikan lele, yang merupakan hasil kerja keras dari program pembinaan kemandirian yang diikuti oleh warga binaan pemasyarakatan (WBP).
Program budidaya lele tersebut dikelola secara terstruktur oleh Sub Seksi Bimbingan Kegiatan yang berada di bawah naungan Seksi Pelayanan Tahanan Rutan Kelas I Surabaya. Kegiatan ini dirancang sebagai salah satu bentuk pembinaan berbasis pengembangan keterampilan, yang bertujuan utama untuk membekali warga binaan dengan kemampuan produktif, sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab, kedisiplinan, serta etos kerja yang positif selama mereka menjalani masa pembinaan di lingkungan pemasyarakatan.
Plh. Kepala Rutan Kelas I Surabaya, Hengki Giantoro, menyampaikan bahwa kegiatan panen lele kali ini bukanlah sekadar acara seremonial belaka, melainkan menjadi bukti nyata bahwa upaya pembinaan di lingkungan pemasyarakatan mampu menghasilkan karya yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat sosial yang nyata. Menurutnya, program pembinaan kemandirian seperti budidaya perikanan ini sejalan penuh dengan arah kebijakan pemasyarakatan nasional yang saat ini lebih menitikberatkan pada aspek pembinaan, bukan hanya berfokus pada fungsi penahanan semata.
“Melalui kegiatan ini, warga binaan mendapatkan pelatihan untuk memiliki keterampilan yang dapat mereka manfaatkan ketika nantinya kembali berintegrasi dengan masyarakat. Selain itu, hasil dari kerja mereka juga dapat memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat luas,” ujar Hengki Giantoro dalam sambutannya.
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa hasil panen lele yang diperoleh tidak hanya akan digunakan untuk mendukung keberlanjutan program pembinaan di masa mendatang melalui penjualan yang dilakukan secara teratur, tetapi juga sebagian besarnya akan disalurkan sebagai bantuan bagi masyarakat yang terkena dampak bencana banjir di beberapa wilayah, antara lain Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Penyaluran bantuan ini dilakukan sesuai dengan arahan langsung dari Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, sebagai bentuk nyata dari kepedulian sosial dan solidaritas kemanusiaan yang dijunjung tinggi oleh seluruh jajaran institusi pemasyarakatan.
Kegiatan Panen Raya Pemasyarakatan 2025 ini menjadi momentum penting dalam menunjukkan transformasi yang terjadi pada sistem pemasyarakatan di Indonesia, yang kini semakin berorientasi pada pembinaan yang produktif, berkelanjutan, dan mampu memberikan dampak langsung yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Melalui program ini, warga binaan tidak hanya dibina untuk dapat mandiri secara ekonomi setelah menyelesaikan masa pembinaan mereka, tetapi juga diajak untuk berkontribusi aktif dalam membantu sesama yang membutuhkan, sehingga nilai-nilai kemanusiaan dan empati tetap dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di balik tembok rutan.
Dengan suksesnya pelaksanaan panen lele ini, Rutan Kelas I Surabaya kembali menegaskan komitmennya yang kuat dalam mendukung program-program strategis dari Kemenimipas dan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, dengan tujuan untuk menghadirkan pelayanan pemasyarakatan yang lebih humanis, produktif, dan benar-benar berdaya guna bagi seluruh pihak. Diharapkan, kegiatan serupa dapat terus dikembangkan dan diperluas ke berbagai sektor produktif lainnya, sebagai sarana pembinaan yang mampu menciptakan perubahan positif yang berkelanjutan, baik bagi kehidupan warga binaan maupun bagi kemajuan masyarakat secara luas.(Har)
